Apa Itu Sholawat Tafrijiyah dan Cara Membacanya
Sholawat Tafrijiyah tersebar luas di seluruh Nusantara — dibaca di majelis, diajarkan di pesantren, dihafal banyak orang tanpa benar-benar tahu dari mana asalnya. Ada yang menganggapnya hadis. Sebenarnya bukan. Ini penjelasan jujur tentang apa sebenarnya sholawat ini, dari mana asalnya, dan kedudukannya menurut ulama.
Teks lengkap
Berikut lafaz Sholawat Tafrijiyah, sebagaimana dicatat oleh Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia dalam penjelasan resmi mereka:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُومٍ لَكَ
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman 'alaa sayyidinaa Muhammadin al-ladzi tanhallu bihil-'uqadu wa tanfariju bihil-kurabu wa tuqdaa bihil-hawaaiju wa tunaalu bihir-raghaaibu wa husnul-khawaatimi wa yustasqal-ghamaamu biwajhihil-kariimi wa 'alaa aalihi wa shahbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi'adadi kulli ma'luumin laka.
"Ya Allah, limpahkanlah sholawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau terurai segala ikatan (kesulitan), terbuka segala kesusahan, ditunaikan segala hajat, tercapai segala yang diinginkan dan husnul-khatimah, dan dengan wajah beliau yang mulia diturunkan hujan — dan kepada keluarga dan sahabat beliau, pada setiap kedipan mata dan hembusan napas, sebanyak bilangan segala yang Engkau ketahui."
Sumber: Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, Tashih al-Mafahim #20 (2021), mengutip Yusuf al-Nabhani, al-Afdhal al-Salawat 'ala Sayyid al-Sadat, hlm. 61.
Bukan hadis — dan itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan
Ini fakta paling penting untuk dipahami: Sholawat Tafrijiyah tidak terdapat dalam kitab hadis Nabi ﷺ mana pun. Ia termasuk kategori sholawat ghairu ma'tsur — yaitu sholawat yang disusun kemudian oleh ulama, bukan lafaz yang datang langsung dari Nabi ﷺ sendiri.
Menurut sumber seperti kitab Khazinatul Asrar karya Syekh Muhammad Haqqi al-Nazili, lafaz ini dikaitkan dengan Imam al-Qurthubi — itu sebabnya ia juga dikenal sebagai Sholawat Qurthubiyah. Ia juga disebut Sholawat Nariyah. Nama "Tafrijiyah" sendiri berasal dari kata dalam teksnya, tanfariju (تنفرج), yang berarti "terurai" atau "terbuka" — merujuk pada kesulitan yang terurai berkat kemuliaan Nabi ﷺ.
Bolehkah diamalkan?
Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia telah mengeluarkan penjelasan resmi tentang pertanyaan ini, khususnya menjawab klaim bahwa sholawat ini mengandung unsur syirik. Kesimpulan mereka: tidak ada unsur syirik di dalamnya. Kata "به" (bi) dalam frasa "تنحل به العقد" dipahami sebagai al-ba' al-sababiyyah — yaitu "dengan sebab beliau", bukan mengklaim Nabi ﷺ sendiri yang menyebabkan efek itu secara hakiki. Ini termasuk dalam bab tawassul (bertawasul dengan kedudukan Nabi ﷺ di sisi Allah), sesuatu yang dibolehkan tanpa perbedaan pendapat dalam bentuk dasarnya, meskipun ulama berbeda pandangan tentang beberapa bentuk tawassul yang lebih luas.
Fatwa itu juga menyebut bahwa Dar al-Ifta al-Mishriyyah (Mesir) turut membolehkan amalan ini. Namun, kesimpulan yang sama juga menyatakan dengan jelas: ini adalah isu khilafiyah — perbedaan pandangan ulama yang sah — dan mereka yang tidak ingin mengamalkannya tidak salah, sama seperti mereka yang mengamalkannya juga tidak salah.
Apa yang sebaiknya diutamakan
Poin penting yang juga dinyatakan fatwa tersebut: meskipun Sholawat Tafrijiyah dibolehkan, umat dianjurkan mengutamakan sholawat dan dzikir yang benar-benar diajarkan oleh Nabi ﷺ sendiri — seperti Sholawat Ibrahimiyah, yang dibaca setiap tasyahud dalam sholat, dan sumbernya jelas dari hadis sahih.
Jika Anda mengamalkan Sholawat Tafrijiyah karena sudah menjadi bagian dari tradisi keluarga atau kampung Anda, tidak masalah untuk terus mengamalkannya — hanya saja baik untuk mengetahui dengan jelas asal-usulnya, supaya tidak dianggap setara dengan sabda Nabi ﷺ.
Menjadikannya bagian dari rutinitas
Banyak yang membaca Sholawat Tafrijiyah pada waktu tertentu — setelah sholat, atau dengan jumlah tertentu setiap hari. Sama seperti dzikir dan sholawat lain, ia lebih mudah bertahan sebagai amalan bila dikaitkan dengan waktu yang tetap, bukan diingat secara acak. Pray secara otomatis memblokir gangguan saat waktu sholat dan dzikir, dihitung langsung di perangkatmu, supaya waktu-waktu ini benar-benar punya ruang untuk terjadi tanpa gangguan ponsel.